Langsung ke konten utama

Generasi Milenial (2)-Budi Darma

SEMENTARA ITU, pengategorian usia juga mengalami perubahan. Dulu ada kategori children (anak-anak), teenagers (sekitar umur belasan sampai awal dua puluhan tahun), young adults (remaja), dan adults (dewasa). Karena anak-anak dan remaja setiap hari dihadapkan pada sajian untuk orang dewasa lewat gawai, istilah teenagers sekarang sudah tidak dipakai lagi. Sebab, pada dasarnya sekarang teenagers sudah tidak ada lagi. Teenagers dan young adults digabung menjadi satu, yaitu young adults. Generasi Y dan Z sekarang juga sudah bercampur baur.
Dalam kategori usia, teenagers tersingkir. Dalam kategori generasi, generasi X juga tersingkir. Demonstrasi para pengemudi taksi dengan tujuan menghapus taksi daring (online) menyiratkan tanda bahwa generasi X sudah tersingkir, meskipun tentu saja bergantung orangnya. Sampai sekarang, misalnya, ada beberapa orang berusia lanjut yang mampu mengoperasikan gawai dengan baik.
Generasi Y dan Z tidak mungkin lepas dari gawai. Juga, hampir selamanya mereka abai terhadap lingkungan karena gawai. Karena itulah, setelah terjadi beberapa kali kecelakaan lalu lintas di Hawaii, pemerintah negara bagian Hawaii mengancam dengan denda berat kepada mereka yang mengoperasikan gawai di jalan-jalan. Nafsu selfie antara lain juga muncul karena generasi itu abai akan lingkungannya. Karena itu, ada selfie diri sendiri, ada pula selfie bareng-bareng yang kadang-kadang mengundang bahaya: jatuh dari jendela, tergelincir dari karang laut, terseret arus sungai, dan terlindas kendaraan.
Sebagaimana halnya selfie, mereka juga ingin bebas, tidak mau dikekang orang lain. Karena itu, mereka suka pindah pekerjaan dan berusaha mendirikan usaha sendiri, baik perseorangan maupun bersama kelompoknya. Perusahaan-perusahaan start-up pun bermunculan. Di pihak lain, perusahaan-perusahaan, baik yang sudah mapan maupun masih baru, tidak suka mempekerjakan seseorang dalam waktu lama. Dari sini, muncullah sistem outsourcing, yaitu kontrak kerja, tanpa jaminan masa depan.
Karena hampir semua data pekerjaan ada di dalam gawai, mereka tidak lagi ambil pusing soal kantor. Mereka bisa bekerja di mana pun mereka berada, selama ada colokan listrik dan wifi. Itulah salah satu pemicu tumbuhnya kafe, tempat mereka bekerja, bersantai, bertemu dengan teman-teman, dan menciptakan koneksi-koneksi baru.
Kepandaian mereka mengoperasikan gawai menyebabkan mereka akrab dengan iklan-iklan promo, antara lain promo pesiar ke luar negeri. Karena itulah, berkelana ke mana-mana, baik di dalam maupun luar negeri, menjadi salah satu gaya hidup mereka. Mobilitas mereka bukanlah sekadar untuk berpelesir, tapi, langsung atau tidak, untuk mencari inspirasi inovasi. Karena itulah, menurut Elon Musk, mantan penasihat Presiden Amerika Donald Trump, inovasi disruptif pada umumnya dimulai dari orang-orang yang memiliki mobilitas tinggi, baik mobilitas fisik, yaitu sering berkelana di dunia nyata, maupun berkelana di dunia maya. Tapi ingat, generasi Y dan Z yang punya pola pikir tradisional juga banyak. Mereka lebih suka menjadi pegawai, menggantungkan masa depan pada dana pensiun, dan memperlakukan gawai sebagai alat hiburan, bukan sarana untuk memicu inovasi.
Dalam proses perkembangan tiap-tiap generasi, jumlah orang yang inovatif pasti lebih sedikit jika dibandingkan dengan mereka yang berpikiran tradisional. Generasi Y dan Z, menurut Elon Musk, adalah generasi yang mampu menciptakan kecerdasan buatan modern. Itu pun, jumlahnya sangat sedikit. Perang yang mampu menghancurkan dunia bukanlah nuklir, melainkan kecerdasan buatan. Karena itu, diramalkan, ambisi pemimpin Korea Utara Kim Jong-un untuk menghancurkan musuh-musuhnya dalam waktu tidak lama lagi akan menjadi usang.
Dalam inovasi disruptif, yaitu inovasi yang mampu mengubah dunia, minoritas jauh lebih dominan jika dibandingkan dengan mayoritas. Filsuf Montesquieu menciptakan trias politika sendirian, musisi John Lennon mengubah musik dunia tanpa banyak teman, dan penyair Chairil Anwar merombak sastra Indonesia juga sendirian.
Makin baru sebuah generasi, makin sadar generasi itu akan pentingnya kesehatan. Dan dari kesadaran itu, jumlah orang tua makin meningkat, jumlah orang muda stagnan atau makin sedikit. Sementara itu, jumlah mereka yang bekerja sendiri tanpa bergantung orang lain (self-employed) juga makin banyak, dan mereka harus mampu menciptakan ”uang pensiun” sendiri di hari tua. Dan pemerintah, tentunya, tidak boleh abai. (*/habis)
Ref : Generasi Milenial (2)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manusia Indonesia

Sarlito Wirawan Sarwono* Beberapa waktu yang lalu, ketika melintasi jalan Kapten Tendean, Jakarta, yang sedang direnovasi, saya terkejut ketika melihat salah satu backhoe (alat berat penggali tanah) bermerek “Samsung” (Korea), karena selama ini yang saya ketahui Samsung adalah produser HP, smart phone, gadget dan barang-barang elektronik, yang sudah jauh menggusur posisi Sonny dan Nokia (Jepang), tetapi bukan produsen alat-alat berat. Tetapi bukan itu saja, di Indonesia para Korea ini sudah mulai menggusur Jepang di bidang kuliner (Resto Korea versus Resto Jepang), budaya pop (K-pop, Gangnam style, Boys band, Sinetron Korea dll), dan otomotif (“H” dari Hyundai versus “H” dari Honda). Padahal Korea pernah “dijajah” Jepang (1876-1945) dan orang Korea punya dendam kesumat kepada orang Jepang. Tetapi dendam itu tidak dibalaskan dengan perang lagi atau agresi politik, melainkan dengan kerja keras yang menghasilkan prestasi di bidang teknologi, ekonomi dan budaya. Dalam waktu 70 tahun k...

Uber Taksi

TAJUK RENCANA: Butuh Kesigapan Pemerintah (Kompas)  Aksi kekerasan terjadi pada unjuk rasa sopir taksi di ibu kota Jakarta. Mereka memprotes kehadiran angkutan umum berbasis aplikasi online. Protes terhadap kehadiran taksi berbasis aplikasi online terjadi di sejumlah negara. Di sejumlah negara, kehadiran Uber dan Grab juga diprotes. Kini, unjuk rasa terjadi di depan mata kita, di Jakarta. Sopir taksi mogok. Bentrok horizontal terjadi. Sesama sopir taksi mencegat sopir taksi lain. Konflik pun melebar melibatkan sopir taksi konvensional dengan tukang ojek berbasis online. Terjadinya kekerasan itu amat disesalkan. Inti protes dari sopir taksi konvensional adalah merosotnya pendapatan mereka. Beroperasinya angkutan umum berbasisonline masuk di celah hukum yang memang selalu tertinggal dengan perkembangan teknologi. Namun, bagi konsumen, angkutan berbasis aplikasi justru dibutuhkan karena lebih murah, cepat melayani konsumen, meski oleh sebagian kalangan dianggap melanggar. ...

Demo Taksi

Pasar, Uber, dan Pemerintah (MUHAMMAD SYARIF HIDAYATULLAH)  Untuk kesekian kalinya, Uber dan layanan transportasi online sejenisnya, ditolak dan dicekal. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara. Seperti yang terjadi di berbagai wilayah, penentang utama Uber berasal dari perusahaan taksi. Motifnya jelas, keuntungan yang semakin berkurang karena pangsa pasar mereka digerus layanan transportasi online. Argumen penolakannya juga sama, bahwa Uber dan layanan sejenisnya ilegal, tidak aman, tidak mematuhi peraturan, dan malah merugikan.  "Ubernomics"  Di tengah perdebatan aspek legalitas dan keamanan layanan transportasi online, sejumlah peneliti mencoba menganalisis dampak sosial-ekonomi dari Uber. Dalampaper-nya, The Social Cost of Uber, Brishen Roger (2015) berpendapat bahwa layanan Uber menurunkan biaya pencarian (search cost) baik untuk penumpang dan sopir. Penumpang dengan mudah membuka aplikasi dan mencari sopir yang sesuai,...